Mandirancan, 02/2/2014. “Banjir iwak… banjir iwak… begitu teriakan dari luar. Serentak aku bergegas keluar memastikan. Kemudian aku ambil alat seadanya. Tudung saji yang aku ambil. Aku tak punya jaring, seser, atau tedong untuk menangkap ikan di sungai. Meski sebenarnya aku sedang beres-beres di rumah.

Banjir iwak adalah istilah yang dipakai ketika kebanyakan ikan akan menepi karena mabok. Biasanya disebabkan karena membesarnya debit air sungai Serayu atau mengeruhnya air secara tiba-tiba. Kondisi ini sontak membuat kami, warga yang dekat dengan sungai Serayu berlarian untuk menangkapnya. Ada yang membawa ember, seser, jaring, atau cikrak, dan berbagai alat seadanya untuk menangkap ikan yang menepi itu. Tak ketinggalan anak-anak, perempuan, dan orang tua.

Sesampainya kami di sungai, diseberang sana, masyarakat Desa Patikraja sudah ramai mencari juga. Ikan-ikan, udang, dan lainnya menepi, memudahkan kami menangkapnya. Riuh suara bersahutan di sana sini. Kami bergegas mencari tempat dengan sedikit berebut untuk menangkapinya.

Namun, ternyata informasi itu terlambat. Hanya sisa-sisa ikan dan udang yang kami temui, mungkin kondisi ini sudah berlangsung lama. Ikan-ikan tak sebanyak yang kami perkirakan. Tapi tetap saja telaten kami menelusuri pinggiran sungai, eh siapa tahu tetap dapat.

Kurang lebih 1 jam sejak sekitar jam 09.00 kami mencarinya. Ada yang berhasil mendapatkan banyak ikan, ada yang cuma udang, yang jelas tak ada yang pulang dengan tangan hampa. Terkecuali mereka yang hendak melihat-lihat saja. Ah, lumayan.

“Lumayan lah, hitung-hitung outbond gratisan. Lama kami tak main di sungai Serayu ini,” demikian tutur Wasono.

Memang sejak ada Bendung Gerak Serayu, membuat debit sungai Serayu ditempatku menjadi relatif stabil besarnya. Tak lagi ditemui ada pelataran di musim kemarau, dan sangat jarang banjir ikan seperti sekarang.

7 Banjir