Mandirancan (01/12/2018). Berawal dari kesenangannya membaca buku, Nassirun Wijaya atau biasa disapa Nassirun Purwokartun, membangun sebuah rumah buku yang dia beri nama ”Bale Pustaka”. Bale Pustaka adalah rumah buku atau rumah baca dengan arsitektur sangat unik, yang sangat kental dengan adat Jawa., yang berada di desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen.

Nassirun membangun Bale Pustaka tiga tahun lalu, untuk sang ayah. Ayahnya buta huruf hingga saat ini, sehingga sebagai anak, Nassisrun ingin memutuskan mata rantai keturunan dari keluarga yang buta huruf.

Nassirun mengaku banyak membaca buku, karena tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan terakhirnya adalah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Bangunan.”Biaya  pendidikan itu sangat mahal. Untuk menjadi cerdas dan pintar tidak hukumnya wajib masuk bangku kuliah. Hukum wajibnya adalah belajar,” ujar Nassirun.

Meskipun tidak kuliah dia membaca buku sebanyak mungkin. Nassirun mengumpulkan buku-buku itu dari ia masih duduk dibangku SMP, hingaa saat ini koleksi buku yang sudah ia kumpulkan sudah ada sekitar 10.000 buku dan akan terus bertambah karena kesukaanya untuk membaca buku.

Koleksi buku tersebut meliputi tema seni budaya, hukum, sejarah, sastra, politik, dan humaniora yang sebenarnya ditunjukan untuk para mahasiswa yang membutuhkan bahan kajian. Menurut Nassirun. “Kenapa dinamakan Bale Pustaka? Karena buku–buku yang saya kumpulkan itu adalah buku yang layak menjadi daftar pustaka untuk kajian kuliah para mahasiswa.”

Selain mendirikan Bale Pustaka, Nassirun juga merupakan pendiri sebuah Komunitas Buka Buku, yang mengajak anggotanya untuk diskusi tentang buku, menulis, dan mewajibkan membaca satu buku dalam satu bulan. Ia juga sempat membina para mahasiswa untuk berdiskusi bersama dan mendampingi belajar menulis. Dia bahkan juga berhasil membawa mahasiswa binaanya mendapatkan beasiswa keluar negeri.

Kecintaan Nassirun terhadap buku membawanya bekerja di dunia buku. “Karena saya cinta sekali terhadap buku, saya bekerja di penerbit. Pertama saya kerja sebagai editor, lalu naik menjadi kepala editor, kemudian menjadi pemimpin redaksi dan juga dipercaya ngopeni Majalah keluarga di Semarang,”

Nassirun berprinsip, belajar itu tidak harus dan tidak hanya di sekolah atau di dalam gedung yang bagus. Ijazah pun bukan segala-galanya. “Akhirnya saya punya kesimpulan untuk diri saya bahwa yang menyelamatkan saya itu bukan ijazah atau gelar, tetapi sebuah keterampilan, keahlian, dan kepercaya diri. Sedikit lebih sombong saya katakan bahwa pada hari ini saya masih hidup dari buku, saya mencintai buku dan akhirnya saya hidup ya di buku.” Ucap Nassirun saat ditemui di rumahnya.

Setidaknya, melalui Bale Pustaka, Nassirun bertekad melawan kebodohan. “Dari rumah ini, semoga menjadi bukti, bahwa saya ikut andil untuk melawan kebodohan.”  (AWN)